Oleh, Opu Chamllo
Ku dengar suara burung di pasar sanglah
Aku disadarkan oleh kicaunya yang merdu
Perlahan mataku terbuka pelan
Aku bergegas meninggalkan bantalku yang empuk
Lalu kutemani nyanyian burung dalam syahdu
Melodinya merdu, baitnya menyapa indah
Di pucuk daun ia bersiul centil
Tangannya menari lincah dari dahan ke dahan
Bibirnya cerdik menyapa pucuk bunga yang kerap mewangi
Kilau mentari sombong menyinari sudut jendela kayu
Di sela dedaunan, udara pagi terasa sedang berjalan
Pagiku yg cerah untuk jiwaku yg tenang
Aku menjemputmu dengan ayat bersama burung
Dengan lagu yang belum tuntas pada bait terakhir
Dan..
Biarkan kumenyapamu dengan mesra
Kupelukmu dalam dekap
Agar keindahan pagi ini selalu bersama hariku
Denpasar, 11 Juni 2010
Kamis, 10 Juni 2010
Minggu, 16 Mei 2010
Kemuliaan Seorang Ibu
Oleh, Opu Chamllo & HB Yayad
Dps, 15/5/2010
Hari ini ingin ku kabari sebuah cerita
Tentang cinta, kasih dan pengorbanan ibu kepada mu
Yang melahirkan dan membesarkanmu atas nama cinta...
Kemarin, ada air mata tumpah dan gelisah menanti hadirmu
Ada getir bersuara, bersama isak nafas yang tersengal antara hidup dan mati
Suka meradang dalam bahagia, walau tangis terdengar isak dalam darah
Kini kau riang bersorak menyongsong hari
Begitu riang dalam tawa dan canda , seolah kau lupa
Bahwa kemarin kau terlahir hanya membawa tangis
Kau seakan lupa tanyakan pada bunda yg pernah gelisah
Pada bunda yg dulu menangis, tentang suara awalmu, tentang isakmu
Kau lupa, berapa banyak air susuh yg mengalir di tubuhmu
Sekarang, tanyakan..
Biar kau tau apa arti pengorbanan seorang ibu
Agar kau mengerti betapa berartinya jasa bunda
Hingga kau sadar betapa bahagia hidup ini atas kasihnya
Dan, biar surga tak akan jauh dari sujudmu
Berkat kemuliaan seorang ibu
Dps, 15/5/2010
Hari ini ingin ku kabari sebuah cerita
Tentang cinta, kasih dan pengorbanan ibu kepada mu
Yang melahirkan dan membesarkanmu atas nama cinta...
Kemarin, ada air mata tumpah dan gelisah menanti hadirmu
Ada getir bersuara, bersama isak nafas yang tersengal antara hidup dan mati
Suka meradang dalam bahagia, walau tangis terdengar isak dalam darah
Kini kau riang bersorak menyongsong hari
Begitu riang dalam tawa dan canda , seolah kau lupa
Bahwa kemarin kau terlahir hanya membawa tangis
Kau seakan lupa tanyakan pada bunda yg pernah gelisah
Pada bunda yg dulu menangis, tentang suara awalmu, tentang isakmu
Kau lupa, berapa banyak air susuh yg mengalir di tubuhmu
Sekarang, tanyakan..
Biar kau tau apa arti pengorbanan seorang ibu
Agar kau mengerti betapa berartinya jasa bunda
Hingga kau sadar betapa bahagia hidup ini atas kasihnya
Dan, biar surga tak akan jauh dari sujudmu
Berkat kemuliaan seorang ibu
Selasa, 20 April 2010
Merenung Diri
Langkah, ku ayun pada bibir jalan ini.
Menuju bidik singgasana yang hampir pasti.
Deru mesin mengiang di gendang telinga, kerap tak mendengarkan alunan kata yang terbisik.
Langkah semakin tertatih saat usia ku menjelang senja.
Aku buta arah untuk mengakhiri lorong ini.
Karenanya aku butuh pandu, butuh bekal sebelum semuanya terlambat..
Aku menyesal karena waktu tak bisa diajak pulang.. (y.a.d,19/4/10)
Menuju bidik singgasana yang hampir pasti.
Deru mesin mengiang di gendang telinga, kerap tak mendengarkan alunan kata yang terbisik.
Langkah semakin tertatih saat usia ku menjelang senja.
Aku buta arah untuk mengakhiri lorong ini.
Karenanya aku butuh pandu, butuh bekal sebelum semuanya terlambat..
Aku menyesal karena waktu tak bisa diajak pulang.. (y.a.d,19/4/10)
Minggu, 18 April 2010
Satu Lagu Rindu
Irama yang paling syahdu adalah keheningan
Syair yang paling indah adalah kesunyian
Dendang yang paling menawan adalah kegelapan
Karena ini nyanyian rindu
Cukupkan ia terpaut dengan hati
Tak perlu gemerlap, meriah, atau bahkan benderang
Kita batasi ia dengan balutan cinta di hati
Bila kau ucap aku rindu
Pastikan ku berkata aku sayang
Jika kau bernyanyi dengan riang
Kan kupetik melodi bahagia untukmu
Hanya untuk kau dan aku
Hanya untukmu, satu lagu rindu..
Jakarta, 18 April 2010
HB Yayad
Syair yang paling indah adalah kesunyian
Dendang yang paling menawan adalah kegelapan
Karena ini nyanyian rindu
Cukupkan ia terpaut dengan hati
Tak perlu gemerlap, meriah, atau bahkan benderang
Kita batasi ia dengan balutan cinta di hati
Bila kau ucap aku rindu
Pastikan ku berkata aku sayang
Jika kau bernyanyi dengan riang
Kan kupetik melodi bahagia untukmu
Hanya untuk kau dan aku
Hanya untukmu, satu lagu rindu..
Jakarta, 18 April 2010
HB Yayad
Jumat, 02 April 2010
Menanti sebuah Akhir
Oleh; Yahya Ado
Lembar hari tak pernah berakhir untuk kubuka
Semakin kucoba memahami ruasnya
Semakin dalam rindu ini kuselami
Nikmat-Mu tiada terkira
Tapi syukurku masih terbilang
Jika ada jalan pintas menuju surga-Mu
Aku cukupkan umurku berjumpa dengan-Mu
Tapi karena semua dalam kehendak-Mu
Maka cukupkan aku tuk mendapat ridho-Mu
Di ujung sajadah putih,
Ku memohon bimbingMu
Tunjukan aku menuju jalan terang
Agar di hari perjumpaan kita
Ku tak sesat singgah di neraka-Mu
Lembar hari tak pernah berakhir untuk kubuka
Semakin kucoba memahami ruasnya
Semakin dalam rindu ini kuselami
Nikmat-Mu tiada terkira
Tapi syukurku masih terbilang
Jika ada jalan pintas menuju surga-Mu
Aku cukupkan umurku berjumpa dengan-Mu
Tapi karena semua dalam kehendak-Mu
Maka cukupkan aku tuk mendapat ridho-Mu
Di ujung sajadah putih,
Ku memohon bimbingMu
Tunjukan aku menuju jalan terang
Agar di hari perjumpaan kita
Ku tak sesat singgah di neraka-Mu
Cinta di Akhir Kisah
Kupersembahkan buat sahabatku 'Asty Tukan' yang sedang pertaruhkan cinta-nya...
Oleh; Yahya Ado
Andai dulu kita tak bertemu
Mungkin tak ada cinta yang kau janjikan
Bila dulu kita tak bersama
Pasti tak ada rindu yang kau suratkan
Kini, semua kian terpupus oleh waktu
Lantaran kau tak pernah jujur untuk bertutur
Ucapmu selalu manis di lidahmu
Katamu menjadi surga di telingaku
Tapi nyatanya di hatimu ada noda
Kau tega, sungguh kau tega
Kau kerap tak merasa
Sedalam apa yang kurasakan
Bila kisah kita harus berakhir di lorong ini
Jangan salahkah mentari, karena ia tak menyinari hati
Jangan pula salahkan hujan, bila ia tak menyejukan jiwa
Anggaplah kita tak disatukan sama tuk selamanya
Ku tahu dia yang terbaik untukmu
Dia mencintaimu lebih dari cintamu padaku
Dia menunggumu di akhir kisah kita
Karena itu, aku rela untuk sebuah cinta
Oleh; Yahya Ado
Andai dulu kita tak bertemu
Mungkin tak ada cinta yang kau janjikan
Bila dulu kita tak bersama
Pasti tak ada rindu yang kau suratkan
Kini, semua kian terpupus oleh waktu
Lantaran kau tak pernah jujur untuk bertutur
Ucapmu selalu manis di lidahmu
Katamu menjadi surga di telingaku
Tapi nyatanya di hatimu ada noda
Kau tega, sungguh kau tega
Kau kerap tak merasa
Sedalam apa yang kurasakan
Bila kisah kita harus berakhir di lorong ini
Jangan salahkah mentari, karena ia tak menyinari hati
Jangan pula salahkan hujan, bila ia tak menyejukan jiwa
Anggaplah kita tak disatukan sama tuk selamanya
Ku tahu dia yang terbaik untukmu
Dia mencintaimu lebih dari cintamu padaku
Dia menunggumu di akhir kisah kita
Karena itu, aku rela untuk sebuah cinta
Selasa, 30 Maret 2010
Menanti Hadirmu
by, Yahya Ado
Di sudut kamar ku menyendiri
Menatap bayangmu berlalu pergi
Ku ingin mendekapnya penuh arti
Namun ia menyelinap kilat
Aku menghukum diri dalam sepi
Mencekam jiwa dalam sunyi
Kenapa aku ada disini
Hanya menanti sebuah diri
Di permadani ini aku bersujud
Membujuk ia menjadi teman
Tapi tak pantas aku terus merayu
Lantaran ia terbentang kaku
Disini aku menanti sebuah harap
Entah waktu yang mau menjawab
Tapi aku ingin kau hadir disini
Disaat hari mulai berganti pagi
Di sudut kamar ku menyendiri
Menatap bayangmu berlalu pergi
Ku ingin mendekapnya penuh arti
Namun ia menyelinap kilat
Aku menghukum diri dalam sepi
Mencekam jiwa dalam sunyi
Kenapa aku ada disini
Hanya menanti sebuah diri
Di permadani ini aku bersujud
Membujuk ia menjadi teman
Tapi tak pantas aku terus merayu
Lantaran ia terbentang kaku
Disini aku menanti sebuah harap
Entah waktu yang mau menjawab
Tapi aku ingin kau hadir disini
Disaat hari mulai berganti pagi
Langganan:
Postingan (Atom)
